4 June 2013

Mister Simorangkir, seorang simpatisan Bung Karno


Sekitar jam 10 pagi saya bersiap-siap menyebrang di depan pertigaan gerbang Ekonomi Universitas Jember. Ini adalah salah satu jalur terpadat di Jalan Jawa. Mobil, sepeda motor, sepeda ontel dan becak tumpah ruah. Di saat menunggu itulah mata saya menangkap sosok renta yang menyebrang jalan dengan kesusahan. Mata saya mengikutinya hingga sampailah ia pada ujung jalan. Ia tampak linglung. Badannya bolak-balik melongkok ke kanan kiri bagai adegan di suatu film drama. Saya pun turun dari sepeda, mendekatinya lalu menyapanya.


Ternyata ia mencari tempat pengetikan. Ia hendak mengirimkan surat kepada Bupati Jember. Sebenarnya saat itu saya ingin buru-buru pulang ke kosan karena belum sempat sarapan. Perut sudah meraung-raung minta diisi. Namun akhirnya saya lebih memilih mengikuti intuisi untuk menawarkan bantuan kepada Bapak Tua tersebut. Saya ajak ia ke sebuah warnet yang ada di dalam gang Jalan Jawa 4 (Itu adalah tempat pengetikan terdekat dari posisi kami bertemu)


Akhirnya kami berkenalan, namanya Pak Oloan. Berusia 79 tahun. Lalu saya mengetik sementara ia membacakan naskah yang sudah ditulisnya. Isi surat tersebut menegaskan bahwa Ir Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia bukanlah seorang komunis dan di akhir surat Pak Oloan meminta bantuan dana untuk melanjutkan perjalanan ke Bali. 


Pak Oloan juga menyertakan 2 buah naskah sebanyak 16 lembar ke dalam map berserta surat tersebut. Beliau juga memberikan naskah itu kepada saya. Saat itu saya membuka sekilas saja, isinya tentang Bung Karno : dari riwaya pendidikannya, pergerakan kemerdekaan, komunisme hingga soal revolusi industri di Inggris dan juga soal orang batak. 


Saya juga agak heran. Apa yang ia cari di Bali? Akhirnya Pak Oloan bercerita mengenai rencananya untuk mengajar Bahasa Inggris di Pulau Dewata tersebut (anak-anaknya tidak mengetahui soal ini).Setahu saya pada usia sepuh ada orang yang bekerja karena memang tidak suka berdiam diri, ada pula yang karena “tuntutan dan kewajiban”. Sementara itu banyak juga saya temui orang tua yang santai di rumah menikmati hari bersama cucu.

Selanjutnya Pak Oloan bilang nanti kalau sudah memiliki uang cukup dari hasil mengajar tersebut, ia berencana menikah lagi.

Spontan saya bertanya “Apakah nyonya sudah meninggal?”

“Saya tidak tahu dimana dia. Dia dulu menyeleweng”

Ah, ngilu hati saya. Setelah itu beliau bertanya maukah saya menikah dengannya. Tentu saya begitu kaget mendengarnya. Sungguh tidak menyangka beliau akan menanyakan hal tersebut. Saya sebagai orang yang gampang tertawa akan suatu hal akhirnya ngakak di dalam hati hehehe...

Oya, saya gak tega memikirkan Pak Oloan melakukan perjalanan jauh ke Bali seorang diri. Saya yang masih muda begini ketika pulang saja (3 jam perjalanan naik bis) pantat saya pasti terasa sakit. Pegel.. Apalagi orang berusia lanjut sepertinya.

Pak Oloan berjalan tertatih. Menyeret-nyeret. Tidak, saya tidak melebih-lebihkan. Memang begitulah ketika ia berjalan. Ia juga membawa tas besar yang tidak bisa ditutup karena isinya terlalu banyak. Ditopang di dada, dipegang bawahnya. Saya kira itu karena ia membawa baju atau semacamnya. Namun saya salah, kertas putih terlihat mendobrak tasnya. 

Ia bercerita bahwa itu adalah copy-an 2 naskah seperti yang ia berikan kepada saya tadi. Ia menyebarkannya ke sekolah-sekolah.  Jaman sekarang berapa banyak sih orang yang peduli dan mau meluangkan tenaga uang juga waktu untuk membela tokoh yang mereka puja?  

Hal lain yang membuat saya mencelos adalah ketika saya bertanya dimana sebenarnya rumahnya. Beliau menjawab “Saya tidak punya rumah. Yang punya rumah itu anak saya...” lalu matanya menerawang jauh. Mendadak saya merasakan hawa pilu menjalar...

Saya kuatir, bagaimana kalau anak-anaknya kebingungan mencarinya. Saya berusaha meminta kontak anak-anaknya tapi Pak Oloan menolak. Ia hanya menyebutkan anaknya berada di Tanggerang, Surabaya dan entah dimana lagi
Kami berpisah setelah saya mengantarnya menaiki angkot kuning menuju PEMDA. Rasanya berat melepasnya. Saat tiba di kosan, nasi yang saya kunyah tidak berasa. Hambar... Pun juga ayamnya. Saya merasa gundah. Kepikiran Pak Oloan...

Akhirnya saya googling ini itu tapi tidak ada berita laporan orang hilang atas nama beliau. Sampai akhirnya saya buka kembali 2 naskah yang ia berikan. Ternyata tertulis sebuah alamat di suatu jalan di kota Surabaya. Saya langsung menghubungi teman-teman di Surabaya, juga teman saya yang orang Batak, menanyakan apakah punya kawan atau kerabat bermarga “Simorangkir”. Namun hasilnya nihil...

 
Salah satu Buku Bung Karno milik ayahanda sahabat saya

Berikut kutipan tentang Pak Oloan yang ia tulis di naskah tersebut :
“Penulis adalah anggota Gereja Masehi Advent hari ketujuh Jalan Tanjung Anom No 5 Surabaya. Beribadah pada hari sabtu, tidak merokok, tidak makan daging babi, tidak minum kopi atau teh dan minuman beralkohol. Riwayat pendidikan dan pergerakan kemerdekaan penulis kutip dari buku Pak Pringgodigdo. Selebihnya dari surat kabar tahun 50-an dan 60-an. Penulis lahir di Taruntung 15 November 1934. Tahun 1954-1965 bekerja di USIS (United States Information Service-bagian dari Kedutaan Amerika Serikat) di Jakarta 1954 SMA C malam, lulus ujian negeri 1957 di Jakarta. Guruh Soekarno Putra bulan Juni 2006 datang ke Surabaya dan mengeluh bahwa Bapak beliau, Bung Karno, dituduh komunis. Keluhan tersebut dimuat di Jawa Pos. Besoknya penulis tulis naskah ini. Penulis adalah simpatisan Bung Karno”

Pak Sabat Oloan Simorangkir...
Dimana pun beliau sekarang berada, semoga Gusti Allah melindunginya...

1 comment:

  1. Hatiku juga mencelos ketika membaca ini. Tapi ada mesemnya juga, ketika beliau berkata, "Maukah kau menikah denganku?"

    ReplyDelete