4 January 2012

Melacak Jejak-Jejak Bioskop Jember


(Rex saat masih menjadi bioskop dan foto bawah (saya ambil Desember 2011) yang sekarang menjadi Toko Sumber Kasih)

Bioskop adalah tempat untuk menonton pertunjukan film dengan gambar yang diproyeksikan ke layar lebar melalui proyektor. Bioskop pertama di Indonesia berdiri pada tahun 1900 di Jakarta. Lalu bagaimana dengan perkembangan bioskop di kota Jember? Saya tertarik untuk melacaknya.

Bioskop pertama di kota Jember adalah Bioskop Rex yang berada di Jalan Diponegoro. Bapak Harsono, warga Jalan Bondoyudo bercerita bahwa pada tahun 1948 ia sudah menonton film di bioskop tersebut. Pada tahun 1960 Presiden Soekarno memerintahkan penggantian semua nama yang berbau asing, karena itu Bioskop Rex pun berganti nama menjadi Bioskop Jaya. Saat ini gedung bioskop tersebut berubah menjadi toko Sumber Kasih. Bioskop kedua yaitu Bioskop Cathay yang sekarang menjadi gedung Telkom (samping masjid Jami Al Baitul Amien).



(bekas tempat layar film Bioskop Jaya)


(Bioskop Cathay)


Jember Theater adalah bioskop yang berada di daerah Kepatihan (di depan GM). Jember Theater menempati Gedung GNI yang berdiri pada tahun 1956. Dulunya gedung GNI adalah tempat pertunjukan kesenian tradisional seperti ludruk dan wayang, setelah itu GNI menjadi gedung serbaguna. Menurut Pak Untung, seorang saksi sejarah yang berumur 55 tahun, Jember Theater mengalami masa kejayaan pada 1986-1990an. Kapasitas bioskop ini sekitar 450 tempat duduk. Dulunya pemutaran film di Jember Theater begitu ketat. “Dulu nonton film diawasi polisi mbak.” katanya. Setelah bioskop mati, gedung GNI ini dipakai sebagai apotik, tempat praktek dokter dan sekarang menjadi tempat futsal.


(Gedung GNI Jember)


Lain lagi dengan Bioskop Sampurna yang berada di dekat Bioskop Jaya. Sekitar 10 tahun yang lalu bioskop ini mengalami kebakaran, dikabarkan karena korslet. Sekarang Bioskop Sampurna tinggal nama karena gedungnya tidak tersisa. Saat ini di lahan bekas bioskop tersebut dibuat menjadi ruko. Dulu ada juga Bioskop Indra yang berada di Jalan Trunojoyo. Saat ini gedung bekas bioskop tersebut dipakai menjadi tempat bilyard. Di Jember sempat pula ada Cineplax 21 di Matahari Johar Plasa namun beberapa tahun yang lalu ditutup karena tidak sebanding dengan biaya operasionalnya.





(lahan bekas Bioskop Sampurna sekarang dijadikan ruko)

Selain menonton film di bioskop, dulu di Jember ada banyak pemutaran film di lapangan terbuka. Semacam layar tancap. Masyarakat lebih mengenalnya dengan bioskop “misbar”. Misbar adalah kependekan dari kata gerimis bubar. Di kota Jember sendiri ada beberapa titik, antara lain di Kebonsari dan Gebang yang disebut juga GT atau Gebang Theater.
Gebang Theater berada di atas tanah bekas pemakaman Tionghoa yang dibongkar sekitar tahun 1983. Saya berkesempatan bertemu dengan penjual tiket Gebang Theater. Beliau bercerita dulu misbar ini begitu ramai. Orang-orang dari desa rombongan naik truk hanya ingin menonton film. Jadwal pemutaran film disini adalah 2 kali semalam yaitu pada pukul 7 dan 9 malam dengan tiket seharga Rp. 250 dan Rp 350. Sama seperti bioskop-bioskop lainnya, disini extra show juga diadakan jika malam minggu tiba. Film yang paling laris diputar di Gebang Theater adalah Brama Kumbara, dengan penonton yang membludak berhari-hari.

Saat hendak pulang seorang ibu bertanya kepada saya “Misbarnya mau dihidupkan lagi tah mbak?” saya melihat matanya mengharap. Ternyata ibu tersebut adalah seorang pedagang yang juga menjadi saksi sejarah bioskop ini. Beliau bercerita dulu saat Gebang Theater berjaya, para pedagang pun kecipratan untung. “Rumah saya bisa bagus karena jualan di misbar. Dulu saya jualan kacang 5 kilo bisa laku habis mbak” katanya mengenang masa lalu. Sekarang eks Gebang Theater diambil alih kembali oleh pemerintah yang menjadikannya sebagai pasar burung.



(dari Misbar Gebang hanya inilah yang tersisa. Dulunya balkon tersebut adalah ruangan proyektor)



Berdasarkan pengamatan saya, matinya bioskop-bioskop tua di kota Jember dan seluruh Indonesia dikarenakan beberapa hal : masyarakat jenuh dengan film-film panas, munculnya saluran-saluran TV swasta pada tahun 1990an, mudahnya mendapatkan VCD film bajakan, menurunnya kualitas film Indonesia, adanya anggapan pergi ke bioskop sama dengan ketinggalan jaman dan yang terjadi sekarang adalah mudahnya mendapatkan film-film baru di warnet.

Satu-satunya bioskop di Jember yang masih bertahan sampai sekarang adalah Bioskop Kusuma yang terletak di Jalan Gatot Subroto. Bioskop Kusuma dulunya bernama Bioskop Ambassador. Pembukaannya pada tanggal 15 Maret 1952. Pak Edi, seorang pemutar rol film (proyeksionis) yang telah bekerja sejak dibukanya bioskop tersebut mengatakan pada masa kejayaannya sekitar sedikitnya 300 sampai 400 orang perhari menonton film disana. Bioskop Ambassador berganti nama menjadi Duta, penggantian pemilik lalu membuatnya berubah nama menjadi Kusuma.



(foto Bioskop Ambassador tahun 1957, yang di bawah foto Biokop Kusuma beberapa hari yang lalu (Desember 2011))

Pria kelahiran 16 Agustus 1933 itu bercerita bahwa dulunya pada masa-masa awal Bioskop Kusuma memiliki tustel pemutar film terbaik di Indonesia, sama seperti di Jakarta dan Surabaya. Bioskop Kusuma memutar film-film lokal, india, china, dan film barat dari MGM (Metro Goldwyn Mayer), Columbia Pictures, serta Paramount. Film-film tersebut diambil dari kantor distributor film di Surabaya. Sama seperti bioskop-bioskop lainnya, Kusuma sempat mengalami mati suri. Namun Kusuma mulai bangkit lagi dengan perubahan manajemen dan menggunakan nama baru yaitu New Kusuma. Sampai saat ini New Kusuma mendapat respon yang cukup bagus dari masyarakat Jember.

Pak Edi Sang Proyeksionis, beliau bercerita sekitar 80% teman-temannya di bioskop sudah meninggal. Beliau lah yang paling senior

Tahun 2007 lalu saya pernah menonton film di Kusuma, film Cinta Pertama-nya Bunga Citra Lestari dengan karcis seharga Rp 7500. Kursinya dari kayu dan besi, keras tentunya dan saat film sudah diputar saya melihat ada tikus berjalan di sekitar tempat duduk saya -__- hiii geli-geli menakutkan. Teman-teman saya malah ada yang bercerita sekitar tahun 2002 – 2003 mereka menonton film juga di Kusuma dengan kondisi kursi dari plastik yang diikat bambu biar gak goyang-goyang hihi lucu ya? Sekarang Kusuma jauh lebih nyaman. Kursinya dari sofa yang empuk dan ada AC pula. Film-filmnya pun jauh lebih up to date.


(Pintu Studio 2, kuno ya ? Memang sengaja dipertahankan seperti ini hehe sip menurut saya)


di dalam Studio 2


(koridor menuju Studio 2)


(Saat itu tumben sekali Bioskop Kusuma rame. Baru sekali ini saya melihat ada banyak motor yang di parkir di depannya, ditambah ada 2 mobil pula. Banyak anak-anak muda masuk Studio 1, ternyata eh ternyata :


Bella dan Edward main ! hihihi)



Semoga Bioskop New Kusuma dan gedung eks bioskop-bioskop di Jember tidak tinggal nama seperti Bioskop Indra yang terletak di Jalan Malioboro dan berseberangan dengan Pasar Beringharjo Jogyakarta, yang oleh Sultan HamengkuBuwono X direkomendasikan sebagai kantung parkir. Atau seperti Bioskop Banteng Hebe Pangkalpinang, Bangka Belitung yang sudah memenuhi persyaratan benda cagar budaya yang wajib dilindungi namun nyatanya dihancurkan berdasarkan instruksi Walikota Pangkalpinang dan menjadikannya sebagai pusat perbelanjaan Bangka Trade Center (BTC).



Semoga kenangan mereka yang semangat mendengar woro-woro dari pengeras suara mobil bioskop yang keliling kota, atau mereka yang pulang sekolah beramai-ramai bersepeda melewati beberapa bioskop melakukan “tour de cinema” hanya untuk melihat poster-poster film, mereka yang dimarahi setelah nonton karena tidak pamit orang tua, mereka yang terhanyut romantisme bersama kekasih saat menonton film-film si Raja Dangdut Rhoma Irama, mereka yang saat SD tidak jadi menonton Ateng and The Goodfather karena ketahuan petugas menduduki kursi kelas 1 padahal membeli karcis kelas 3, mereka yang suka silat karena film-film Jet Li dan kenangan mereka yang begadang bersama ayah menghabiskan malam menonton film bisa terus hidup dengan tetap berdirinya gedung-gedung bioskop tua kota Jember. Gedung-gedung tua dengan potongan-potongan memori di dalamnya.

Salam,

Elfira Arisanti

32 comments:

  1. Woa.. Mantab n keren sejarahnya..

    ReplyDelete
  2. Waduh "serdadu kumbang" napa masih maen? :D

    ReplyDelete
  3. noy : hehe ini semua disusun dengan bersepeda berkeliling kota :)(gak penting infonya :p ahaha)

    asop : ya maklum lah, bioskop di Jember agak ketinggalan dibanding kota besar :) disini tayang beberapa bulan setelah tayang di kota hehe. tapi sekarang jauh lebih cepat kok dibandingkan yang lain :) pertimbangan lainnya yaitu film yang laris diputar disini akan tayang lebih lama lagi sop

    ReplyDelete
  4. wah hasilnya keren! besok kalo wawancara lg ajak aku lg ya mbak!!

    sampe merinding soalnya denger langsung dari nara sumbernya!

    ReplyDelete
  5. wah :o
    baru tau kalo ternyata di jember banyak juga bioskop2 gitu :)

    salam kenal kakak :D
    aku dari jember juga.
    eh btw, dijember ada komunitas blogger gak sih ? :3

    ReplyDelete
  6. noval : iya insyallah kapan-kapan mbak ira ajak kamu lagi ya val :)

    rusydina tamimi : salam kenal juga , sama aku juga baru tau ya setelah survey itu hehe. ada kok, aku malah baru gabung. namanya SUWAR SUWIR :)

    ReplyDelete
  7. aku nunggu poconggg masuk kusuma , soalnya di 21 dah ga diputer kaya'nya .. belum sempat nonton .. sayngnya bioskop jember ga update film terbaru yaaa -_-

    ReplyDelete
  8. sabar ya val, beberapa bulan lagi pasti nongol :)

    ReplyDelete
  9. keren ira :) aku punya film dokumenter bikinan temenku, soal bioskop kuno terakhir di jogja yang bernama permata. Akhirnya bioskop itu tutup juga, dan kawanku itu bikin film dokumenter soal tutupnya gedung bersejarah itu. Ntar kalau aku ke jember, aku kopiin ya :)

    ReplyDelete
  10. Sumpah kereen ! bisa aja kmu dapet foto" lamanya mbak, salut aku !! :D xoxo

    ReplyDelete
  11. bagus nih, cerita kampung halaman.

    ReplyDelete
  12. bioskop... kasihan ya, mereka harus gulung tikar
    padahal bioskop bagian dari budaya juga loh

    ReplyDelete
  13. Dija belom pernah ke bioskop Tante...

    ReplyDelete
  14. mantab...,kusuma skrg lebih bagus,n semoga plaza johar 21 dibuka lagi.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. bioskop pertama yg ada di Jember Rex/Jaya dan Cathay. Pertu ditambahkan bahwa bangunan yang sekarang menjadi Bank BRI jl PB Sudirman, dulunya adalah sebuah bioskop. Saya lupa namanya. Gedung bioskop itu bersebelahan dengan Hotel Jember. Kedua bangunan itu sekarang sudah tak bersisa dan sudah diubah menjadi Gedung Bank BRI yang 100% baru. Dulu halaman gedung bioskop dan hotel jember itu luas sekali dan terdapat banyak pohon cemara. Saya ingat betul sebab rumah saya tepat persis dibelakangan kedua bangunan itu. Dan di sana pula dulu semasa kecil saya selalu bermain setiap sore. Sayang bangunan itu sudah hilang, begitu juga dengan rumah masa kecil saya di Jl PB Sudirman gang I.........

      andi yusuf

      Delete
  15. Senang sekali membaca ulasanmu Fira. Seperti tidak sedang tapi sedang nyeruput kopi sambil makan pisang goreng yang masih anget-anget kuku :)

    Ijin share ya..

    ReplyDelete
  16. Waaaah,...keren ki. Jadi ingat dulu bioskop Kusuma adalah tempat favorit dikala bolos ngaji. hehehhehe,... selain Misbar ini bioskop yg terbilang berkarcis paling murah. Rp 300,- ternyata malah ini satu2nya yang masih bertahan.

    ReplyDelete
  17. wah, jadi inget terakhir kali nonton di bioskop Sampurna, nonton Universal Soldier-nya Jean Claude Van Damme dan Dolph Lundgren, tahun 1992 kalo ga salah... masi SD, nontonnya bareng ortu...hehehe

    ReplyDelete
  18. kereennnn ijin share yaaahhh

    ReplyDelete
  19. Pada thn 70an ada Misbar di jalan Trunojoyo...

    ReplyDelete
  20. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  21. keren pembahasannya.. sekarang kusuma update kog filmnya, sejatinya jember butuh lebih dari 1 bioskop.. kalopun ada bioskop berformat 3D sekalipun saya jamin banyak peminatnya mbak.. salam kenal mbak. septian

    ReplyDelete
  22. jarak rumahku cuma sktr 50 meter dari Gebang Theater. dulu akrab bgt dengan stereonya film india. pernah di masa awalnya, Gebang Theater dipake untuk konser musik. dan salah satu artis yg pernah tampil adalah Anggun -yg masih gadis bergaya topi baret-. hehehe, termasuk saksi hidup juga...

    ReplyDelete
  23. WAH!
    Postingnya menarik banget! Terimakasih untuk berbagi infonya mas. :)
    Monggo mampir ke web saya. :)

    ReplyDelete
  24. Eh maaf..
    Maksudnya makasih udah berbagi info, MBAK. Hihihi. :)

    ReplyDelete
  25. nang sukowono juga ada dulu. gedung bioskop, kecamatan kecil di jember utara ini juga punya gedung bioskop lokasinya persis dekat terminal, sekarang jadi dealer motor

    ReplyDelete
  26. Wah jadi inget masa kecil, paling suka duduk depan kalau ada pertunjukan layer tancep :)
    Di Ambulu juga ada mbak bekas Bioskop, tepatnya di GNI perempatan Ambulu. Gedungnya sudah tidak terurus lagi dan sekarang di depannya berdiri pos polisi.

    ReplyDelete
  27. Trims infonya,,,keyyyyyyyeeeeennn

    ReplyDelete
  28. wow keren informasinya seharusnya di lestarikan ya g beda jauh dengan di tempat saya

    ReplyDelete