28 June 2013

Kearifan lokal dalam cerita rakyat Using




Cerita rakyat Indonesia pernah Berjaya di telinga, hati dan pikiran anak-anak Indonesia sekitar setengah abad lalu. Ketika radio, televisi dan internet belum menyapa mereka. Dari kamar-kamar berlistrik yang terang di kota hingga kamar-kamar pengap berlampu minyak di pelosok desa, cerita rakyat mengalir dari mulut ibu, bapak, kakek, nenek atau siapa saja yang bisa bercerita, ke telinga anak-anak terutama pada saat menjelang tidur. 

Sejatinya cerita-cerita rakyat tersebut telah menjadi produk yang berharga dalam sebuah keluarga karena telah menghubungkan batin dan kasih orangtua dengan hati dan pikiran anak-anaknya. 

Dalam buku Mutiara Tersisa III Kearifan Lokal Dalam Cerita Rakyat Using ini ada 9 cerita dari Banyuwangi yaitu : Sri Tanjung, Sesal Kemudian Tak Berguna, Syeh Wali, Lanang, Barong, Mas Tawang Alun, Buyut Cungking, Buyut Cili, Watu Kebo dan Minak Jingga.


Uniknya, buku yang disusun oleh Ayu Sutarto, Marwoto dan Heru SP Saputra ini disajikan dalam 3 bahasa yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Bahasa Using.

Ayu Sutarto, Marwoto dan Heru SP Saputra


Buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi yang menarik.








Sejak kecil saya suka sekali membaca cerita rakyat. Santoso Slamet, ayah saya sering membelikan buku cerita rakyat dari seluruh Indonesia. Saya juga menikmati cerita-cerita rakyat dari Banyuwangi. Ayah saya juga lahir di Genteng, salah satu kecamatan disana.

Berikut ini link dua cerita rakyat Banyuwangi yang saya baca dari buku ini :

Cerita Buyut Cili, untuk mendengar sila  klik disini

Cerita Buyut Cungking, untuk mendengar sila klik disini

Sampai saat saya menulis postingan ini, sudah lebih dari 251 kali rekaman tersebut diputar. Saya mohon maaf, rekamannya gak sempurna. Ada bagian dimana lidah keselip hehehe…

Oya, untuk melihat foto-foto launching buku ini sila  klik disini

No comments:

Post a Comment