9 November 2011

Satu diantara Dua


Cerpen oleh Elfira Arisanti
1
Hujan membasahi bumi Brawijaya. Sudah beberapa hari ini. Mentari hanya terlihat sesaat. Kadang bisa sampai tengah hari, terik membuat keringat bercucuran, namun lebih sering hanya menemani Si Jago berkokok lalu tergantikan awan-awan gelap sampai senja datang. Ibu-ibu mengeluh karena jemuran tidak kering.
“Hm.. aku selalu suka bau tanah yang diguyur hujan!” sahut perempuan berambut panjang di sebelahku.
Alamanda Aira namanya.
Aku mengenalnya sejak tinggal di kota ini. Terhitung sudah 4 tahun lebih. Dia teman pertamaku ; teman di kos dan teman satu jurusan. Aku tidak pernah bosan berteman dengannya. Ama sempurna.
Ayahnya adalah diplomat dan sejak kecil mereka kerap berpindah-pindah tempat tinggal dari satu negara ke negara lain. Beberapa kali aku bertemu dengan keluarganya, sangat harmonis. Ama perempuan berwawasan luas. Hobi membacanya membuatnya menyenangkan saat diajak bicara. Ia berjiwa sosial tinggi. Sering aku melihatnya tiba-tiba menyodorkan nasi kepada pemulung yang sering lewat di jalan, padahal ia sendiri belum makan sama sekali.
Ama juga secara konstan berbagi saat ulang tahunnya tiba. Bukan mengadakan pesta besar-besaran sepertiku dan teman-teman lainnya. Aku pernah menemaninya ke pasar membeli beratus tangkai bunga sedap malam, bunga kesukaannya. Yang ternyata ia bagi-bagikan kepada ibu-ibu di jalan. Saat itu ia merayakan ulang tahunnya yang ke-19. Tahun berikutnya ia mengajakku mengelilingi kota dan membagikan nasi bungkus kepada banyak orang.
“Hey, kok diam aja?” Ama menyenggol lenganku, menyadarkan pikiranku tentang dirinya yang melayang kemana-mana.
“Adem... hehe” sahutku sambil menyalakan rokok.
Kami duduk bersila di tepian jendela. Memandangi hujan yang turun semakin deras. Kulihat Ama masih menatap butiran-butiran air yang menghantam tanaman Ibu Kos. Sedangkan aku asyik menghangatkan diri, menghisap rokok beberapa kali. Menghembuskan asapnya perlahan ke jendela yang setengah terbuka.
“Raida, aku gak kuat....” Ama memegang dadanya
“Huh dasar penyakitan! Haha...” buru-buru aku mematikan rokokku.
“Daripada lesbian ye...” ia membalasku sambil nyengir.
“Biarin. Laki-laki gak ada yang bisa dipercaya. NIHIL”
“Apesmu. Pengalamanmu yang buruk dan kamu samaratakan semua laki-laki di dunia ini. Padahal kan gak semuanya Da... Ayah dan lelakiku baik.” Wajahnya serius
“Bawel lagi ini emak-emak ahahaha”
“Tapi ya balik lagi, itu kan pilihanmu...”
Aku manggut-manggut. Hidupku memang terserah aku. Aku yang menjalani. Ama menghargai pilihanku walaupun kadang ia mengejekku bercanda seperti tadi. Tapi hanya ia yang menerimaku sementara teman-temanku yang lain memandang sebelah mata kepadaku sementara lainnya bahkan terlihat jijik. Semua karena mereka yang tidak ada sangkut pautnya denganku itu tidak menerima pilihanku.
Bapak yang meninggalkan Ibuku bahkan sebelum aku menjadi janin dan pengalaman buruk bersama pacar-pacarku yang dulu lah yang membuatku seperti ini. Kehilangan kepercayaan terhadap laki-laki. Ibu harus berjuang mati-matian menghidupiku seorang diri. Ibu juga menolak untuk menikah lagi padahal aku tau banyak yang ingin melamarnya. Ibu berhasil membuktikan bahwa tanpa laki-laki pun kami bisa hidup bahagia, sampai sekarang.
Pacar-pacarku yang dulu sama saja seperti Bapak. Hanya menganggap kami mesin. Disetubuhi tak kenal waktu. Asal mereka mau berarti harus. Apapun kondisi kami mereka tidak mau tahu. Semua brengsek, seakan lupa sawah yang ditanami pun pasti ada jedanya. Sampai aku bertemu Irna, seorang DJ yang tulus kepadaku. Ia menyayangiku tanpa menuntut ini itu. Begitu tulus. Kami pacaran lebih dari setahun. Aku merasa sangat nyaman bersamanya.
Kadang aku merasa iri melihat Ama yang sempurna dikelilingi laki-laki yang baik. Ayahnya sangat baik, ia pernah bercerita seumur hidupnya Ayahnya sangat menghargai Ibunya. Tidak pernah sekalipun ia memukul Ibunya. Dulu aku hanya mengulum senyum begitu mengetahui hal itu. Jauh berbeda dengan Bapak yang ringan tangan. Yang kata Ibu setiap hari pasti memukulnya.
Ama juga mempunyai kekasih yang sempurna. Aldi namanya. Aldi merupakan laki-laki yang terpilih karena selama 20 tahun Ama menunggunya. Ama begitu yakin kepada Aldi.
KONYOL

2
“Aku perlu ngomong sesuatu ke kamu Ma....”
“Soal apa sayang? Ngomong aja” aku bergelayut manja di lengannya.
“Masih bisakah kamu terima kalau aku mengakui sedari dulu hatiku bukan hanya milikmu?”
Aku kaget. Kulihat Aldi baik-baik, ia takut menatapku.
“Maksudnya apa???”
Ia meremas tangannya. Gelisah. Beberapa kali ia membetulkan letak kacamatanya yang padahal sempurna.
“Aku bingung harus menjelaskan darimana..”
Aku menatapnya tajam. Ia semakin tidak berani menatapku. Malah semakin keras melihat sepatunya. Tiba-tiba tubuhku terasa panas. Pikiranku langsung melayang ke satu wajah.
“MAKSUDNYA SI MANTAN ITU KAH?!” kurasakan darahku mendidih. Buru-buru aku bangun dari dudukku. Betul kah kecurigaanku dulu nyata terjadi?
“Ama, please... Tenang dulu Ma. Tolong tenang dulu sayang ya...” Aldi buru-buru memapahku untuk duduk.
“JELASKAN MAKSUD OMONGANMU APA! JELASKAN SEKARANG JUGA!”
“Aku bingung bagaimana harus memulainya...”
“JELASKAN!” aku mulai frustasi.
“A... Aku minta maaf banget. Selama ini, aku... Aku masih sayang sama Ati.. Aku gak bisa ngelupain dia. Aku udah usaha Ma, aku berusaha untuk melepaskan semuanya tapi Ati terus muncul di hatiku.”
Mataku semakin panas. Butiran kecil pun jatuh menyentuh pipiku.
“Sejak kapan Di? Sejak kapan?” aku berusaha menguatkan diri untuk bersuara. Gemetar.
“Dari dulu Ma, sejak sebelum kita jadian...”
“Sampai sekarang?”
“Iya, sampai sekarang aku masih sayang Ati. Aku sayang kamu Ma dan aku juga sayang Ati.”
“Maksud semua ini apa?” airmataku tak terbendung lagi.
“Sejak kamu muncul dalam hidupku aku sudah berusaha untuk melupakannya. Aku tau ini egois, tapi aku mencintai kalian berdua...”
“Apa salahku Di? Apa salahku?”
“Nggak Ma, kamu nggak salah. Aku yang salah. Aku juga nggak tau kenapa dia selalu muncul dalam bayanganku.”
“Sampai sekarang kamu masih sayang dia?”
“Iya...”
“Seberapa besar?”
“Sama seperti aku sayang kamu.”
Ingin rasanya aku membakarnya hidup-hidup saat ini juga. Setelah apa yang selama ini aku lakukan, setelah apa yang selama ini kami lakukan.
“Kalau misalnya saat ini di depanmu ada aku dan dia, siapa yang akan kamu pilih?”
“Aku gak bisa milih...”
“EGOIS KAMU YA!”
“A.. aku....”
“Kamu masih mengharap dia kembali?”
“Aku harus realistis, aku sama kamu sekarang dan dia juga punya pacar.”
“KAMU NGGAK JAWAB PERTANYAANKU! KAMU MASIH MENGHARAP DIA KEMBALI APA NGGAK?!” emosiku memuncak setelah mendengar jawabannya. “JAWAB DI!”
“Iya...” Aldi semakin menunduk kaku. Meremas tangannya.
“Kita sama-sama ingin menikah dengan satu sama lain kan Di? Kamu benar-benar ingin menikahiku kan?”
“Iya Ma..”
“Lalu?
“Sebesar keinginanku untuk menikah dengannya...”
“Kalau kamu merasa seperti itu kenapa kamu mempermainkan aku selama ini? Kenapa bohong dengan bilang sayang aku? KENAPA?!”
“Aku nggak bohong, aku sayang kamu. Itu yang aku rasakan tapi selama ini aku juga merasa tertekan. Aku merasa bersalah membohongimu selama ini...”
“Kenapa kamu baru jujur sekarang?”
“Karena aku nggak kuat.”
“Kenapa kamu begitu egois?”
“Dari dulu aku berniat untuk mengakui semuanya Ma. Aku terus mengumpulkan keberanianku untuk ngomong ke kamu.”
“Dengan begini kamu malah makin nyakitin aku Di. Setelah sejauh ini. 3 tahun Di, 3 tahun kita bersama.”
“Maaf... Tolong jawab Ma, masih bisakah kamu terima aku kalau nyatanya aku seperti ini? Aku ingat ucapanmu saat kita baru jadian dulu, kamu bilang kamu hanya mau pisah denganku hanya karena kematian dan kalau aku selingkuh. Aku ingat betul ucapan itu Ma. Aku memang jarang ketemu dia dan aku memang jarang komunikasi dengannya, ya tapi... tapi hatiku selingkuh sama Ati.”
Dari dulu aku selalu berpikir kisah cintaku akan sempurna. Selama ini aku selalu membangga-banggakannya di depan teman-teman, bahkan ayah dan ibuku. Dari dulu aku berpikir suatu saat aku pasti akan sangat bangga menceritakan kisah cinta kami kepada anak-anak dan cucu-cucu kami nanti. Kisah cinta yang tanpa cela, yang sempurna.
Selama ini aku begitu percaya padanya. Keyakinanku begitu besar. Dialah orang yang aku yakini pasti akan menanam benih di rahimku suatu hari nanti...
“Halo Raida”
“Iya apa Di?”
“Da, Ama kecelakaan Da.. di UGD sekarang.”
“APA? KOK BISA?!”
“Udah cepetan kesini ya Da, tolong bawain beberapa baju Ama.”
“Oke oke ntar lagi aku kesana Di”
Jam menunjukkan pukul 11 malam. Aku mengantuk, begitu juga Aldi. Tapi kami sama-sama menahannya. Saling bergantian menunggu Ama sadar. Aldi tidak menceritakan dengan jelas kecelakaan yang menimpa Ama. Ia hanya bilang Ama lari menyebrang jalan tanpa melihat kendaraan yang berlalu lalang. Selebihnya tidak aku tanyakan, moodnya pasti sedang turun pikirku.
Aldi pamit untuk ke kosnya, mengambil baju-bajunya sekalian membelikanku makan karena tadi aku tidak sempat makan malam. Aku sendiri memandangi Ama. Wajahnya pucat. Tangannya dibebat gips. Patah. Dokter bilang Ama gegar otak. Kulihat dadanya naik turun. Bernafas perlahan-lahan. Kasian sekali Ama. Aku tidak tega memandanginya terlalu lama, hati terasa teriris.
Aku sudah menghubungi orangtua Ama yang tinggal di Banjarmasin. Yang langsung berangkat menuju Malang. Sekarang aku hanya tinggal menunggu ; menunggu Ama sadar, menunggu Aldi yang membawakanku makanan, dan menunggu orangtua Ama sampai.
Tiba-tiba dering HP berbunyi. Aku mencari asal suara itu. Ternyata dari tas Ama yang ada di atas meja di pojokan ruangan. Aku langsung duduk di kursi lalu mengambil tas itu. Ada banyak sms masuk. Aku tidak berani membukanya. Biar Ama saja yang membacanya saat sadar nanti.
Saat hendak mengembalikan HP itu ke dalam tas Ama, tiba-tiba sebuah buku terjatuh dari dalamnya. Aku berjongkok untuk mengambilnya. Bukan buku, tapi ternyata buku harian Ama. Di depannya ada fotoku dan Ama hihi lucu juga. Aku jadi penasaran untuk tahu isinya. Apakah Ama menulis banyak tentangku?
Aku membuka-buka halamannya. Tidak ada. Aku membuka halaman selanjutnya, membacanya perlahan. Bukan, bukan tentangku dan Ama. Ama tidak menulis tentangku. Semua tentang ia dan Aldi. Tentang kisah cinta mereka. Halaman-halaman awal ini terasa manis sekali, berbunga-bunga. Ama ternyata sangat mencintainya. Tulisan-tulisannya begitu tulus. Aku yang membacanya sampai ingin menangis.
Tak terasa hampir setengah buku hariannya sudah kubaca. Aku sudah ingin menutupnya, tapi saat jemariku menyentuh halaman dengan tulisan bertinta merah aku jadi semakin penasaran untuk membacanya. Penuh amarah. Ama menulis sesuatu yang tidak pernah diceritakannya kepadaku selama ini....
“Di, aku harus ngomong sesuatu sama kamu” kataku pagi itu.
“Iya, silahkan Da...”
“Jangan disini, takut ganggu Ama dan orangtuanya.”
Kami pamit kepada orang tua Ama, sementara Ama tertidur kembali setelah sarapan tadi. Aku mengajak Aldi berjalan keluar dari rumah sakit. Berjalan tanpa tujuan sampai kami berdiri di atas rumput di sebuah lapangan.
“Kok jauh Da? Ini mau kemana? Kamu mau ngomong apa?”
“Ya udah kita ngobrol disini aja”. Kataku sambil mengeluarkan senjata api dari tasku. Hasil rampokan dari rumah Tanteku semalam. Memain-mainkannya, memutar-mutarnya di jari telunjukku.
“DA?! NGAPAIN KAMU BAWA-BAWA PISTOL DA?!” Aldi kaget ketika menyadari benda yang ada di tanganku ini.
“UNTUK NEMBAK KAMU!!!!!!!” Aku langsung mengarahkannya ke dada Aldi.
“MAKSUD KAMU APA RAIDA?! SALAHKU APA?!” Aldi terlihat panik.
“TEGA KAMU YA MUKUL-MUKUL AMA! TEGA KAMU NGELUDAHIN DIA!”
“A... APA?!”
“NGAKU AJA KAMU DI! SEMUA TERTULIS DI BUKU HARIANNYA!” aku semakin kesal melihat wajahnya. “AMA NGGAK PERNAH MENCERITAKAN KEBURUKANMU DI DEPAN ORANG! KAMU SELALU DIAGUNG-AGUNGKAN! TERNYATA BUSUK KAMU! DAN TENGAH MALAM TADI SAAT DIA SADAR AKHIRNYA DIA BILANG YANG SEBENARNYA! KECELAKAAN ITU KARNA KAMU KAN?! KAMU NYAKITIN BATIN DAN FISIKNYA! PADAHAL DIA SEGITU CINTANYA SAMA KAMU DI!”
“Raida, tolong tenang dulu ya. Kita omongin baik-baik dulu. Kamu harus dengar penjelasanku...” suaranya memohon-mohon lemas.
“BAJINGAN KAMU!” aku meludahinya, seperti dia berani meludahi wajah Ama. “KAMU GAK LAYAK UNTUK AMA! DIA TERLALU BAIK UNTUK KAMU DAN KAMU BUSUK!”
“Raida maaf, aku.... a...”
DOOOOOOOOR!!!!!
Wajah Aldi terciprat darah dari dadanya. Ia jatuh tersungkur ke tanah yang basah, memegangi dada kirinya. Mengejang. Beberapa saat merintih. Ia memohon pertolonganku. Aku meludahinya lalu mendekatkan wajahku kepadanya, memandangnya jijik. Menunggu sampai ia benar-benar tidak bergerak.
Tidak ada lagi yang bisa menyakiti Ama. Tidak ada lagi. Aku mencintainya. Hanya aku yang boleh mencintainya...
( Jember, pertengahan Mei 2011
setelah sangat sangat lama gak nulis cerita fiksi )

No comments:

Post a Comment